BIDADARI
(Maharani Rani)
Seandainyabungadapatmenjadiwakilhatikusaatini,
pastilahdialayu.Seandainyabulan yang berbicara,
pastisaatinidiasedangtertutupbumidarimatahari. Dan seandainyabintang yang
bercerita, mungkinsaatiniadalahsiNGDnmenghLngisinarnyauntukmenyinariku.
AkuEmbun.
Begitulahmerekamemanggilku.Akusukadengannamaitu, sejukdidengar. Ah lupakan!
Akuadalahgadisusia 22 tahun yang sampaisaatinimasihmencarisesuatu.
Mencarisesuatu yang
masihmenjaditekatekidalamsetiaplamunanku.”Apakahbidadariitunyata?” kedengarannyaanehuntukgadisseusiakumemikirkanitu,
tapi rasa penasaranku yang
memuncakselalumembuatkuinginmencarijawabandaripertanyaankuitu.
“Umiapakahbidadariituada?”
“Abiapakahbidadariituada?”merekahanyatersenyum.
Harikusemakinsesak, dipenuhidenganpertanyaan yang
samadansemakinmenggunung. Akuberlarihingga kaki
kakikecilkutakdapatlagimelangkah, menghantarkanku di bawahgubuk di
tengahtengahhamparanpadi yang
siangituikutmenyapaku.Akuhanyatermenungdanmenatapkeatasbukitjauhnanelok.
“Naknak, ngapainsiangsiangbegini di tengahsawahsendirian?”
Tanya bapaktani yang lewat
“Berteduhsajakokpak….”
Jawabkusedikitmempersembahkansenyumkuuntuknya
“Yasudah, bapakduluanyanak”
“Iyapak…” Kembalikutersenyum.
Aku pun kembalipadalamunankusambilbertanya Tanya padahati.
“Apakahbidadariitunyata?”
“Temantemanlihatadapelangi…!”
“Pastiadabidadari yang turundarilangit”
“Eh, bidadariitusepertiapasih?”
“Merekacantik”
“Akujadiinginbertemubidadari”
“Bidadari??!!”
akutersentakmendengarteriakanteriakananakkecilitu yang menyambutpelangi yang
sianginisengajakeluarmengiringikepergian sang hujan. “Ada bidadari??!!”
batinkuterusberdebatdenganjawabanjawabanitu.Akuterusmemikirkanitu.Sepanjangperjalananitusaja
yang selalumelintas di pikiranku.Masihterngiangngiang di
pikirankutentangteriakanteriakananakanakitu.
“Embun, darimana?Koksendirian?”Tanya Wati di persimpangan.
Akumasihmemikirkanitu. Dan…..
akubenarbenartakmendengarsapaannya.
“Embun…!!”sambilmencubitku.
“Astaghfirullah… wati, kenapakamumencubitku?”
tanyakukesakitan.
“Sayatadi Tanya embun, kamudarimana?”
“Hmm…anu… darisawahwat, hhmm..sayapulangduluanyawati. Udah
di tungguumidirumah.Assalamualaikum”
“Yaudahdeh, hatihati.Walaikumsalam”
Sesampai di rumah
“Assalamulaikumumi, maafkesorean” sambilmenciumtanganumi.
“Tidakapaapaembun, umisudahberesberesrumahkok”
jawabumiseketika.
“Maafyaumi ,itukantugasnyaembun. Besokbesokbiarembunsaja
yang beresberes.”Sambilmemelukumi.Akumerasabersalah
“Allahuakbarallahuakbar” suara azan
memecahkanheningnyasuaraku di tengahtengahkeramaiandesa nan asri. Aku pun
bergegaske masjid.Sepoisepoianginsenjamengantarkankumelangkahke
masjid.Suaraindahitumembuatbulubulukumerinding di buatnya, membuatkupenasaran.
“Assalaulaikumwr.Wb.”Pak
ustadmemberisambutansetelahselesaishalat.Sambutanberlangsungdengankhidmad.Acara
seminar di mulai.
“Assalamulaikumwr.Wb.”Seorangpemudaberparastampandantetapsederhanamemberisalamkepada
kami semua. “Sebelumnya, sayaperkenalkandirinamasayaLintangusiasaya 23 tahun.”
”Ohh..namanyalintang. Diakan yang azan tadi..??
Humm..tampan, tapiapakahdiashaleh?” tanyakudalamhati.
Semuamateritelahdisampaikannya.Acara pun usai.Aku pun
bersiapsiapmendirikanshalatisya’ berjamaah.Dan setelahituaku pun
bergegaspulang.
“Assalamualaikum…” Jantungkuberdetakkencang,
suarainisepertisuara orang yang berceritatadi. “Walaikumsalam..”jawabkuakutertundukmalu,
takberanimenatapwajahnya. “Abiadaenggak?” tanyanya. “Ada kokdirumah”
Aku pun bergegaspulang.Tidak lama kemudian….
“Assalamulaikum”
“Walaikumsalam” jawababi.Ternyata mas Lintang.
“Silahkanduduknak”.Akuterkejutdengankedatanganmaslintang. Aku
pun segeramengambil air minumuntukmaslintang.
“Embun, sinilahduduk di sebelahabi.”Akukaget, hamper
sajakumenjatuhkanminumannya, aku pun duduk di sebelahabi”
“Lintanginginmengkhatibmu, apakahkamubersedia?”Tanya
abispontan.
Haahh..akutidakmenyangkadenganapa yang dikatakanabi.
Akutertundukmalu, badankukaku.
“Berikanembunwaktuabi”.
“Baiklah, sayaakanberikanwaktu”
lintangmencobamengerti.Akuistikhorohmencarijawabannya.
Sejuknyaanginsurgameneroboscelahcelahdindingkamarku.Menyapuseluruhpengapnyaruangsempitini.“SudahSubuh”
gumamku.Akuterbangundanmenujukamarmandiuntukmengambil air wudhu.Shalatsubuh pun
selesaikukerjakan.Aku pun menyelesaikantugasrumahkudansemua pun
beres.Sambilmenungguumiselesaimandiaku pun
menyiapkansarapanuntukumidanabi.Saatnyamandi.Semuatelahrapi, bersihdanharum.
“Embunsebentarlagi mas lintangmaudatang,
kamusiapsiapya..”Ya Allah..bagaimanaini.?
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam” jawab kami kompakdaridalamrumah
“Silahkanduduknak”
Obrolanpembuka pun lancardisuguhkanumidanabiku.Akududuk di
sebelahumi.
“BagaimnaEmbun??” Akudiamseribu kata, akutertunduk,
akumalu, akubimbang.Namun Allah memberitahukubahwadiajodohku. “Bismillah,
embunmauumiabi..”Akumerasalega.
Haripernikahankusecepatmungkindilangsungkan. Dan
hariiniadalahtepatdimanaakudiserahkanpadamaslintang.
“Bidadariitunyata di dunianak..yaituKamu, yang
saatinimenjadiBidadarinyaLintang” kata umiabiku.
“TAMAT”